Postingan

Sendang Bidadari: Tempat bertemunya Jaka Tarub dengan Dewi Nawang Wulan

Gambar
Sendang Bidadari adalah salah satu tempat keramat yang diyakini sebagai tempat mandi para bidadari. Sendang ini terletak kurang lebih satu kilometer dari makam Ki Ageng Tarub, di dusun Serman, desa Pojok, kecamatan Tawangharjo, Grobogan. Sendang ini juga yang menjadi tempat pertemuan antara Jaka Tarub dan Dewi Nawangwulan. Suatu ketika Jaka tarub melihat wanita mandi di Sendang, yang ternyata adalah bidadari. Jaka Tarub langsung mengambil salah satu pakaian mereka, kemudian dibawa pulang dan disimpan dibawah tumpukan padi (lumbung) ketan hitam. Jaka tarub kembali lagi ke Sendang dengan membawa pakaian ibunya. Setelah sampai di dekat sendang, para bidadari sudah terbang kembali ke nirwana. Tinggal satu yang masih mendekam ditepi sendang dengan lirih berkata : “Siapa yang bisa menolongku, jika perempuan saya jadikan saudari dan jika laki-laki saya jadikan suami.” Disaat itu Jaka tarub mendekati sambil menyodorkan pakaian ibunya. Setelah Dewi Nawang Wulan berpakaian, diajaklah ia pulang k...

Mengenal Asal Usul Nama Cilegon

Gambar
Asal usul nama Cilegon sendiri berasal dari kata ‘Ci atau Cai’ dan ‘Legon atau Melegon’. Dalam bahasa Sunda, kata ‘Cai’ memiliki arti ‘Air’, sementara ‘Legon’ memiliki arti ‘Lengkungan’. Jadi nama Cilegon diambil dari kubangan air atau rawa-rawa, sesuai dengan kondisi wilayahnya yang memiliki banyak rawa atau kubangan air. Cilegon merupakan salah satu daerah Industri di Provinsi Banten yang dikenal dengan kota Baja. Sebagai bagian dari Provinsi Banten yang terkenal sebagai pusat penyebaran agama Islam, Cilegon merupakan salah satu kota yang hingga kini masih menjaga budaya keislamannya. Hal itu terbukti dari Al Khairiyah yang masih berdiri, dan merupakan peninggalan pahlawan nasional Brigjen KH. Syam’un atas peristiwa bersejarah pada 1888, yang dikenal dengan Geger Cilegon. Geger Cilegon merupakan pemberontakan yang dipimpin oleh KH. Wasyid, kakek dari KH. Syam’un, atas dasar ketidakpuasan masyarakat dan para ulama atas kebijakan yang diterapkan oleh pemerintahan kolonial Belanda selam...

Setetes Biografi Syekh Jamaluddin Subang

Gambar
Makam Syekh Jamaluddin yang berlokasi di Desa Tanjungsari Kecamatan Cikaum Kabupaten Subang ini memiliki sejarah yang sangat jarang diketahui oleh penduduk sekitar maupun penduduk luar. Makam Syekh Jamaluddin, sebelum diperkenalkan/dipermaklumkan oleh Syekh Ali (kisaran tahun 1950) masyarakat saat itu menyebutnya sebagai makam karuhun. Syekh Ali ini merupakan tokoh ulama yang berprofesi selain pedagang juga seorang perekrut calon-calon jama'ah haji yang mengurus proses hajian dari keberangkatan hingga kepulangan, baik transportasi laut, darat, konsumsi, sampai penginapan. Karena di Tanjungsari saat itu dipandang banyak yang melaksanakan ibadah haji, maka Syekh Ali suatu ketika menunaikan keinginannya berkunjung ke Tanjungsari karena dilatar belakangi keyakinan bahwa suatu daerah yang bagus perkembangan syi'ar Islamnya biasanya di wilayah tersebut hidup atau disinggahi seorang waliyullah (orang istimewa). Sesampai di Tanjungsari, Syekh Ali minta diantar ziarah ke makam wal...

Jejak Sejarah Transmigran Jawa di Lampung

Gambar
 Berdasar etnisnya, menurut data dari pemerintah Lampung, ternyata persentase orang Jawa yang tertinggi, yakni 65,8 persen. Disusul Lampung 12,8 persen, Sunda 11,36 persen, Minangkabau 3,57 persen, Batak 2,13 persen, Bali 1,73 persen dan etnis lainnya 2,15 persen. Hal ini merupakan dampak transmigrasi yang sebetulnya dimulai sejak 1905 oleh Belanda dan dilanjutkan Republik Indonesia pada 1950.  Setelah transmigrasi berjalan tentu saja banyak pendatang lain datang dan para transmigran itu juga beranak pinak. Dari Teluk Betung orang-orang Jawa itu berjalan kaki ke Gedong Tataan selama dua hari. Tak ada kendaraan bermotor untuk mengangkut 815 orang yang terdiri atas 155 kepala keluarga (KK) beserta anggota keluarganya. Daerah-daerah yang mereka lalui masih sepi. Dalam buku Transmigrasi di Indonesia 1905-1985 (1986), Slamet Poerboadiwidjojo menulis, “Desa inti pertama dibangun pada tahun 1905 di Gedong Tataan, kira-kira 25 km di sebelah baratnya Tanjungkarang di pinggir jalan ke K...

Syekh Dahlan Al- Mutamakkin: tokoh karismatik dari Grobogan

Gambar
Setiap bulan Syawwal hari ke-7, adalah haul agung Truwolu, Kyai Dahlan Al-Mutamakkin. Di makam Agung Kedungcowek, Desa Truwolu, Kecamatan Ngaringan, Kabupaten Grobogan. Beliau Kyai Muhammad Dahlan Al-Mutamakkin adalah putra dari K.H Ahmad Arif bandungsari bin K. Abu Idris Kedungcowek bin K. Abdullah Kracah bin K. Ahmad Yonoyo Kusumo Karangwetan bin K. Muhammad Endro Kusumo Gambiran-Pati. Putra seorang wali yang masyhur, Assyekh Ahmad Al-Mutamakkin, Kajen. Yang putra dari R. Muhammad Kusumo Hadinegoro, Tuban. Yang putra dari K.R. Abdul Khalim ( Pangeran Benowo Kusumo Hadiningrat), bin Sultan Hadiwijoyo Jaka Tingkir, yang berjuluk Pangeran Ing Ngalogo Sayiding Panoto Agomo. Dengan nama asli Pangeran Abdur Rahman- Sultan Pajang. Adapun jalur ibu, beliau adalah Nyai Syarifah binti K. Hasan Kuro Bandungsari. Dengan nasabnya yang bersambung sampai Mbah Habibah Jatisari, yang bersambung ke Mbah Sambu Lasem (Sayyid Abdurrahman). Syekh Muhammad Dahlan lahir di Bandungsari- desa yang penuh deng...

Sejarah dan Asal Usul Kota Jasinga

Gambar
Nama Jasinga ditinjau secara autentik yaitu menunjuk pada naskah-naskah kuno atau kajian sejarah Sunda, terdapat Jayasinghapura yang berarti gerbang kemenangan yang didirikan oleh Raja Taruma I (Jayasinghawarman). Dalam naskah sejarah yang ditulis dan dirangkum oleh Panitia Wangsakerta Panembahan Cirebon, nama Jasinga terdapat dalam sejarah Lontar sebagai tempat rujukan untuk melengkapi Kitab Negara Kretabhumi yang disusun untuk pedoman bagi raja-raja nusantara. Kitab itu disusun selama 21 tahun (1677-1698 M) pada masa-masa genting yaitu beralihnya raja-raja di Nusantara ke dalam penjajahan Belanda. Lontar itu berjudul ”Akuwu Desa Jasinga”. Dulu Jasinga meliputi batas-batas, Sajira di sebelah Barat, Tangerang di sebelah Utara, Bayah di sebelah Selatan dan Cikaniki di sebelah Timur. Berlalunya waktu, Jasinga kini berbatasan dengan Cipanas, Tenjo, Parung Panjang, dan Cigudeg. Oleh orang-orang tua dulu Jasinga disebut juga Bogor-Banten, bahkan juru pantun terkenal Sunda yaitu Aki Buyut Ba...

Benteng Pendem: Saksi Bisu Perjuangan Rakyat Cilacap Menghadapi Penjajah

Gambar
  Cilacap, k ota yang memiliki semboyan “Bangga Mbangun Desa” itu ternyata memiliki satu objek wisata bersejarah berupa benteng peninggalan kolonial Belanda yang dalam bahasa belanda diberi nama Kustbatterij op de Landtong te Cilacap itu berada di pesisir pantai Teluk Penyu kabupaten Cilacap, Jawa Tengah dan dibangun pada tahun 1861. Menurut babad Banyumas, sebelum dibangun oleh Belanda dahulunya memang sudah terdapat pembangunan benteng ini dilaksanakan oleh Sunan Paku Buwono IV untuk keperluan menghadapi bajak laut yang sering menyerang pantai. Kemudian masyarakat memberikan nama “Benteng Pendem” karena benteng dibangun dibawah permukaan tanah. Pendirian benteng ini oleh Belanda hampir bersamaan dengan munculnya Tanam Paksa yang dicanangkan oleh Gubernur   Jenderal Johannes van den Bosch. Lalu selain dua fungsi di atas, Benteng Pendem juga difungsikan oleh Belanda sebagai tempat yang strategis untuk mengamankan ekspor hasil perkebunan bagi negeri Belanda. Kemudian ...